01 Februari 2010
Hasil studi Aberdeen Group dan Forrester Consulting cukup mengejutkan dan patut kita cermati. Aberdeen Group menemukan bahwa 1 detik delay response time dapat menurunkan 7% conversions rate. Sementara Forrester Consulting menemukan bahwa rata-rata waktu yang diinginkan konsumen online untuk menunggu loading halaman website adalah hanya 2 detik saja.
Di Indonesia sendiri hal diatas lebih sulit untuk dipahami karena kecepatan koneksi internet di Indonesia 1/10 lebih lambat dibanding kecepatan koneksi di Amerika. Namun hal yang perlu dijadikan fokus adalah kita harus memberikan perhatian yang berlebih pada waktu loading halaman website. Kita sering menyebut hal ini sebagai Website Performance.
Temuan Aberdeen Group menyadarkan kita bahwa delay response time berdampak pada conversions rate. Sementara dampak pada conversions rate adalah pada penjualan. Artinya delay response time mempunyai dampak tidak langsung pada penjualan kita.
Hal ini dapat dipahami karena peningkatan jumlah website yang masuk dalam suatu industri semakin banyak. Di Indonesia sendiri pertumbuhan jumlah website masih dalam angka 2 digit.
Artinya konsumen berhadapan dengan sebuah kompleksitas karena makin banyaknya pilihan. Sementara sifat alami manusia adalah tidak sabaran. Dengan banyaknya pilihan maka konsumen online cenderung untuk mudah berpindah pilihan jika dalam waktu singkat ia tidak dapat menjumpai ekspektasinya pada sebuah kunjungan ke website yang menjadi minatnya.
Seperti yang ditemukan Forrester Consulting bahwa konsumen online hanya mau menunggu 2 detik saja untuk menunggu loadingnya halaman website. Hal ini tidak berarti bahwa konsumen online menginginkan dalam waktu 2 detik seluruh halaman website sudah terbuka. 2 detik adalah waktu untuk sebuah halaman web mulai membuka, bukan seluruhnya terbuka.
Hari ini, Web 2.0 dipenuhi oleh banyaknya aplikasi dan fitur. Konsekuensinya adalah kinerja client side makin ditekan khususnya pada browser yang digunakan. Inilah yang akan menjadi tantangan pada dunia Web Development, IT operations dan e-business team yaitu bagaimana tetap berperforma tinggi pada era yang makin kompleks.
Menurut Imad Mouline, ada tiga tantangan utama dalam mengelola performa web dalam era modern website dan aplikasi :
- Peningkatan kompleksitas web dan aplikasi
- Client side processing
- Keberagaman browser

Era website statis telah berakhir. Pada website dan aplikasi modern saat ini, user dibawa pada website yang kaya akan fungsi. Sebagai contoh, dalam satu website bisa terdapat fitur-fitur seperti analytics, AJAX, flash dan flex, sementara sebuah website e-commerce dapat memiliki fitur-fitur seperti pencarian produk, video, user manual, product tours, shopping cart, check out, dan aplikasi-aplikasi lainnya yang mengusung third-party.
Hal diatas sebagai contoh dari kompleksitas Web application delivery chain dimana pada satu sisi hal tersebut dapat memuaskan online user namun pada sisi sebaliknya hal tersebut menurunkan performa sebuah website. Masalahnya lagi adalah end-user tidak perduli akan hal tersebut. Mereka akan menyalahkan si pemilik web. Hal ini berarti bisnis online harus melakukan management yang baik pada third-party yang akan diaplikasikan pada websitenya.
Untuk mengelola third party dari fitur-fitur tersebut bisnis online harus :
- Memonitor bagian penting dari halaman web – aktivitas yang mendorong keuntungan, conversions, page views, customer satisfication dan outcome bisnis.
- Mengisolasi bagian halaman web yang diimplementasikan dengan third party untuk mengakselerasi troubleshooting dan mengoptimalkan performa vendor.
Fokus pada Client Side Improvement
Sebagian besar industri membuktikan bahwa Web performance berdampak pada business performance. Menurut Google search 400 ms delay menghasilkan pencarian 0,59% lebih rendah per user. Di satu pihak, Web performance memiliki pengaruh yang besar pada data center, dimana faktor performance penting ada pada beberapa variabel seperti kapasitas server, jarak dan kapasitas network. Faktor-faktor ini masih memainkan peranan, tapi pada website dan aplikasi modern telah bergeser banyak dari kinerja server dan network ke client side. Atau pada komputer dan browser ‘end-users’ yang mengeksekusi kode-kode dan script pemrograman pada aplikasi agar berjalan.
Untuk alasan ini, pendapat lama yang berfokus pada optimasi back-end hardware dan network sudah tidak relevan. Sering kali disadari bahwa langkah terakhir pada Web application delivery chain, browser dan infrastruktur front-end pada kenyataannya adalah faktor yang lebih krusial – mereka menanggung 50-80% end-user response time. Dengan kata lain, meningkatkan level browser merupakan dampak terbesar pada persepsi end-user tentang performance sebuah web.
Bisnis online yang menginginkan client-side optimization dapat melakukan hal berikut :
- Mengoptimasi dari user point-of-view: kita harus memilik view yang jelas dari end-user experiences untuk masuk ke dalam persepsi mereka. Jika tidak, maka mustahil untuk mengidentifikasi dan memperbaiki ise client-side performance.
- Prioritas project : tidak semua aplikasi dari client-side optimization menghasilkan benefit. Pilih aplikasi yang menggunakan javascript dan AJAX dan memperlihatkan client-side render times yang tinggi.
- Seleksilah performa third-party vendors (contohnya CNDs, ratings and reviews, advertisements, newsfeed, 3D modeling dan shopping carts) yang bekerja baik pada client-side.
Perang Browser: Memenangkan Pertarungan Web performance
Karena begitu banyak proses aplikasi sekarang terjadi di client-side daripada server, tipe browser yang bervariasi dan performance bisa mempunyai pengaruh utama jika dilihat dari sisi user experience. Contohnya, browser-browser yang berbeda dapat melakukan load pada source code, images dan objects pada perintah yang berbeda – berdampak pada presentasi yang tidak konsisten, performa yang buruk, kehilangan kesempatan cross-sell dan menyebabkan kefrustasian pada end-user. Ini berarti konsumen di Eropa dimana browser Firefox berjaya bisa jadi hasilnya berbeda untuk konsumen yang berada di Amerika Utara dimana browser Internet Explorer mendominasi disana. Dan para pengguna Safari, Opera dan browser-browser lainnya mempunyai experience yang berbeda lagi.
Jika website Anda tidak berjalan optimal di semua jenis browser, maka kepuasan pelanggan, revenue dan merek Anda sedang dalam beresiko.Dalam pendidikan konvensional tentang manajemen web performance terfokus pada optimisasi server dan network, tidak mengidentifikasi isu browser yang sebenarnya dapat berdampak pada revenue generating pages dan transaksi.
Untuk berhasil me-manage perkembangan browser yang makin beragam :
- Memonitor web performance secara real-time pada browser yang digunakan end-user untuk secara cepat dan mudah mendapat gambaran tentang user experience
- Lakukan ujicoba untuk memastikan kode aplikasi terpasang secara benar pada setiap browser atau device yang digunakan
- Optimalkan halaman web dan aplikasi untuk konsumen dan segmen yang paling utama
Saat web performance management konvensional tidak dapat menemukan cara mengatasi kompleksitas sebuah web secara ideal, temuan baru telah dapat mengatasi isu ini. Contohnya :
- Giringlah ke dalam performa dengan proses yang lengkap pada keduanya (contohnya multistep search, shopping cart dan transaksi check out) sebaik masing-masing komponen individual tersebut untuk secara proaktif mengidentifikasi isu performa dan inti masalahnya
- Fokus pada pengembangan performa client-side dimana itulah hal yang paling terlihat pada end-user
- Peningkatan kekuatan website dan performa aplikasi secara konsisten seiring segmen end-user yang juga makin beragam
Website semakin beragam dan kompleks, di sisi lain ekspektasi end-user untuk online experience juga semakin meningkat. Dengan terobosan yang tepat, sebuah bisnis online dapat mencapai ekspektasi end-user tersebut dengan web performance yang superior yang dapat menguatkan customer relationship dan potensi revenue-generating.
